Gresik, 16 Oktober 2025
Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik, menegaskan komitmennya dalam peningkatan kualitas pendidikan dengan menyelenggarakan Workshop Pembelajaran Mendalam dan Insersi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Kegiatan yang berlangsung mandiri di Hotel Vanda Gardenia, Trawas, Mojokerto, pada 15–16 Oktober 2025 ini, diikuti oleh 131 guru madrasah se-Kecamatan Benjeng.
Ketua KKMI Benjeng, Mujtaba, menyampaikan apresiasi atas antusiasme dan kesediaan para peserta untuk hadir dengan biaya mandiri, yang mencerminkan semangat tinggi dalam mengembangkan kompetensi. Ia menekankan bahwa workshop ini bukan hanya sarana peningkatan profesionalisme guru, tetapi juga persiapan penting dalam menghadapi supervisi pengawas di madrasah masing-masing.
"Tugas kita adalah mencerdaskan anak bangsa. Semoga dengan workshop ini kita lebih inovatif, profesional, dan diakui sebagai guru yang bermanfaat. Semoga perjuangan ini menjadi amal jariyah," ujar Mujtaba.
Dalam arahannya, Plt. Kepala Kantor Kemenag Gresik, M. Ali Faiq, menyoroti fenomena kemerosotan akhlak generasi muda yang berani menjelekkan tokoh agama di ruang publik. Ia mengungkapkan kebanggaan melihat semangat peserta yang begitu khusyuk saat menyanyikan Himne Madrasah, berharap energi positif tersebut menular ke ruang-ruang kelas.
"Saya bangga kegiatan ini bisa terlaksana dengan biaya mandiri. Mari kita niatkan kegiatan ini bukan hanya menuntut ilmu, tapi juga mempererat silaturahmi di antara tenaga pendidik," pesan Ali Faiq.
Workshop ini menghadirkan sejumlah narasumber yang berfokus pada pendekatan humanis dalam pendidikan. Suprianto menyampaikan materi Insersi Kurikulum Berbasis Cinta, Nur Yajid membahas Konsep Pola Pikir Bertumbuh, sementara Mulyono Malik mengupas Pembelajaran Mendalam, Ko-Kurikuler, dan Asesmen. Peserta juga terlibat dalam sesi Micro Teaching, penyusunan RPP, dan praktik implementasi kurikulum berbasis cinta.
Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) merupakan upaya fundamental untuk membangun pendidikan yang berbasis kasih dan nilai spiritual. Pendekatan ini relevan dengan kajian akademis yang menekankan bahwa komunikasi efektif dan empati dalam lingkungan belajar berperan penting dalam memitigasi konflik sosial, sebagaimana disoroti oleh Pruitt dan Rubin dalam penelitian mereka tentang teori konflik sosial.
Kegiatan ini menegaskan komitmen guru madrasah di Benjeng untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter dan akhlak yang mulia.