Gresik (Humas) — Sebanyak 35 pasangan dengan usia pernikahan lebih dari lima tahun mengikuti Piloting Keluarga Sakinah di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Kamis (9/9). Kegiatan ini menjadi ruang pembinaan bagi pasangan untuk memperkuat ketahanan keluarga melalui penguatan nilai agama, komunikasi, dan kehidupan rumah tangga.
Kepala KUA Kecamatan Kebomas, H. Naryanto, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas kehadiran para peserta. Ia sekaligus memperkenalkan diri sebagai Kepala KUA Kebomas yang baru menerima amanah tersebut sekitar satu pekan.
Kepala Kemenag Gresik,Muhammad Ali Faiq, memberikan sambutan sekaligus membuka acara. Dalam arahannya, beliau salah satu pemateri, mengibaratkan hati manusia seperti tubuh yang membutuhkan asupan. Jika orang sakit membutuhkan obat, hati juga membutuhkan ilmu dan hikmah agar tidak mengalami “kematian” secara spiritual.
Menurut Muhammad Ali Faiq, majelis taklim memiliki peran penting karena perubahan perilaku keluarga bermula dari hati. Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua orang mendapatkan kesempatan mengikuti materi pembinaan keluarga seperti ini.
Dalam membangun rumah tangga, ia menekankan pentingnya meluruskan niat. Pernikahan, kata dia, jangan semata-mata didasarkan pada kecantikan, kekayaan, atau ketampanan karena semua itu memiliki keterbatasan. Niat menikah karena Allah menjadi fondasi utama dalam menjalani kehidupan bersama.
Bertindak sebagai narasumber utama, Imam Chanafi, Penyuluh Agama Islam Kabupaten Gresik, dalam materinya mengingatkan peserta agar lebih waspada terhadap penggunaan gawai dalam kehidupan rumah tangga. Gadget, menurut dia, dapat menjadi sarana kebaikan, tetapi juga berpotensi mengganggu relasi pasangan apabila tidak digunakan secara bijak.
Ia kemudian mengajak pasangan memperhatikan kembali makna pernikahan sebagai ikatan antara laki-laki dan perempuan yang harus dijaga dengan kesungguhan.
Peserta juga diingatkan untuk tidak memelihara “dua hati” dalam hubungan dengan orang lain.
“Ojok nduwé loro ati ambek uwong,” ujar Imam Chanafi dalam bahasa Jawa.
Ia juga menekankan pentingnya tirakat atau kesungguhan spiritual dalam menjaga rumah tangga. Menurutnya, keberlangsungan keluarga tidak hanya ditopang oleh kebutuhan material, tetapi juga kedekatan kepada Allah dan kemampuan pasangan mengendalikan diri.
Salah satu pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya menjaga lisan. Lisan tidak hanya berkaitan dengan apa yang diucapkan, tetapi juga berkaitan dengan cara seseorang berbicara, makan, dan bersikap dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW ketika ditanya tentang jalan keselamatan. Rasulullah SAW menjawab agar seseorang menjaga lisannya, mencukupkan rumahnya, dan menangisi kesalahannya.
Selain lisan, Imam Chanafi menekankan pentingnya menjaga rumah sebagai ruang utama pembentukan keluarga. Rumah tidak semestinya hanya menjadi tempat tinggal, tetapi menjadi tempat tumbuhnya ketenangan, kasih sayang, pendidikan, dan kehidupan spiritual keluarga.
Program Piloting Keluarga Sakinah sendiri merupakan bagian dari upaya Kementerian Agama memperkuat fungsi KUA agar tidak berhenti pada pelayanan administrasi pernikahan. KUA diarahkan menjadi pusat layanan keluarga yang memberikan bimbingan, konsultasi, pendampingan, mediasi, dan advokasi, sekaligus memperkuat ketahanan keluarga.
Melalui kegiatan di KUA Kebomas ini, pasangan yang telah menjalani pernikahan lebih dari lima tahun tidak hanya diajak mempertahankan rumah tangga, tetapi juga menghidupkan kembali kesadaran bahwa keluarga merupakan ruang pertama untuk belajar mencintai, bersabar, menjaga amanah, dan mendekat kepada Allah SWT.