Gresik, 26 Juni 2026
Kualitas pendidikan dan mutu madrasah tidak sekadar ditentukan oleh kurikulum, melainkan oleh kekuatan karakter, kepekaan, serta kebersamaan para pendidik di dalamnya. Atas dasar tersebut, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gresik mengumpulkan sedikitnya 140 peserta yang terdiri dari jajaran pimpinan mulai dari Kepala Madrasah, Wakil Kepala Bidang Humas, Kepala Tata Usaha hingga aparatur sipil negara (ASN) guru dan tenaga kependidikan dari tingkat MIN, MTsN, dan MAN se-Kabupaten Gresik.
Langkah ini diambil sebagai respons atas evaluasi kedisiplinan dan pola interaksi kedinasan. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gresik, Muhammad Ali Faiq, menegaskan bahwa transformasi digital tidak serta-merta bisa menggantikan esensi hubungan emosional antar-pegawai. Pelatihan yang selama ini kerap bertumpu pada sistem daring atau online dinilai membawa dampak positif yang kurang maksimal, terutama dalam membangun kedekatan emosional (chemistry) dan kekompakkan tim.
"Kegiatan penguatan ini membutuhkan kepekaan dan kebersamaan yang nyata. Melalui pertemuan langsung, kami berinisiasi untuk menyamakan persepsi sebagai ASN Kantor Kemenag Gresik sekaligus membentuk kekompakkan yang solid. Ketika kita melaksanakan tugas dengan baik, insyaallah kita mendapat keberkahan, karena keberkahan itu harus kita jemput, bukan ditunggu," ujar Muhammad Ali Faiq saat membuka acara secara resmi. Ia juga berharap seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga tuntas demi menumbuhkan rasa empati yang tinggi terhadap sesama ASN dan lingkungan kerja sekitar.
Sesi penguatan karakter ini menghadirkan pakar dari Universitas Negeri Malang, Umi Dayati. Dalam paparannya, ia memotivasi para guru untuk menanamkan konsep well-being atau kesejahteraan psikologis dalam diri sebelum mengajar. Guru harus mampu mengenali potensi dirinya sendiri terlebih dahulu agar bisa mengenali dan memahami rekan sejawat serta para siswa.
Menurutnya, modal paling utama dan sederhana bagi seorang guru adalah senyuman, karena saat tersenyum, hormon dopamin yang memicu kebahagiaan akan berproduksi dan menularkan energi positif di ruang kelas. Lebih lanjut, dalam konteks mendidik, Umi Dayati mengingatkan pentingnya keselarasan antara pihak madrasah dan keluarga. Orang tua bertindak sebagai pendidik utama di rumah, sedangkan guru berfungsi sebagai pengajar di sekolah.
Guru madrasah dituntut memahami bahwa setiap manusia memiliki sembilan kecerdasan, dengan tiga modalitas belajar yang paling umum yakni auditori, visual, dan kinestetik. Ia berpesan agar para guru tidak mempersulit orang lain dan terus mengasah talenta kepribadian yang tegas, disiplin, namun tetap komunikatif guna mencetak generasi madrasah yang unggul.