Gresik, 4 Juli 2026
Kualitas pembelajaran di lingkungan madrasah Kabupaten Gresik dipastikan akan semakin kontekstual dan adaptif terhadap perkembangan regulasi pendidikan terbaru. Melalui penguatan kompetensi praktis, para pendidik kini diarahkan untuk mengintegrasikan potensi lingkungan hidup dan kearifan lokal ke dalam ruang kelas lewat skema Project Based Learning (PjBL) berbasis etnoekologi. Langkah strategis ini diambil guna membekali guru agar mampu melahirkan generasi didik yang kritis sekaligus peduli pada kelestarian wilayahnya.
Transformasi mutu pengajaran ini diperkuat dalam Workshop Desain Pembelajaran yang digelar di Aula Wagos, Gosari, Ujungpangkah, Jumat (3/7/2026). Kegiatan yang diinisiasi oleh Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Surabaya bersama SAKA Indonesia Pangkah Limited (SIPL) ini menjadi momentum krusial bagi akselerasi mutu sumber daya manusia di lingkungan madrasah. Agenda ini sekaligus menjadi jawaban taktis atas pemberlakuan Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 yang menekankan fleksibilitas serta relevansi kurikulum berbasis proyek.
Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gresik, Masfufah, menegaskan bahwa pola pengajaran konvensional yang berfokus di dalam ruangan harus mulai bertransformasi. Pendekatan etnoekologi dinilai sangat relevan dengan karakteristik geografis dan sosiologis wilayah Gresik, terutama di kawasan pesisir dan perdesaan seperti Ujungpangkah.
"Guru madrasah dituntut tidak sekadar menuntaskan materi di buku teks, melainkan wajib mengaitkannya dengan realitas lingkungan hidup di sekitar siswa. Melalui model pembelajaran berbasis proyek etnoekologi ini, kita tidak hanya mengasah kecerdasan akademis anak, tetapi juga membangun kepekaan sosial dan kecintaan mereka pada ekologi lokal sejak dini," ujar Masfufah di sela-sela peninjauan kegiatan.
Melalui lokakarya intensif ini, para peserta dibekali tahapan taktis dalam merancang, mengeksekusi, hingga mengevaluasi proyek belajar siswa yang memanfaatkan ekosistem setempat sebagai laboratorium alam. Pendekatan ini diharapkan mampu menurunkan tingkat kejenuhan belajar siswa sekaligus mendongkrak capaian kompetensi dasar secara signifikan. Pihak penyelenggara berkomitmen mengawal implementasi desain instruksional ini agar langsung diterapkan pada tahun ajaran baru.
Sinergi berkelanjutan antara otoritas pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, dan sektor industri ini diproyeksikan akan menjadi standar baru dalam pengembangan kompetensi guru di internal Kemenag Gresik. Dengan penguasaan metode yang matang, madrasah di Gresik ditargetkan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya unggul dalam aspek spiritual, melainkan juga tangguh dan inovatif dalam memecahkan masalah-masalah nyata di tengah masyarakat.