Gresik (Humas) - Dari usaha yang awalnya sekadar mengejar produk laku terjual hingga menerima pesanan 300–500 buah, perjalanan Wiwin, peserta AMIK Training Center Batch 1, menjadi kisah inspiratif dalam kegiatan Training UMKM Scale Up yang digelar KUA Kecamatan Kebomas, Selasa (20/10/2026), di AMIK Coffee Shop, Gresik.
Kegiatan melalui program KUA Pemberdayaan Ekonomi Umat (KUA PEU) ini merupakan kolaborasi KUA Kebomas, Lembaga Amil Zakat (LAZ) Al-Azhar, MENBIS SEUISI, dan AMIK Training Center untuk mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berkembang lebih profesional, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Dalam sambutannya, perwakilan LAZ Al-Azhar menekankan bahwa banyak UMKM memiliki produk yang enak, tetapi omzetnya belum berkembang. Karena itu, scale up bukan sekadar meningkatkan penjualan, melainkan juga membangun pola pikir bertumbuh, sistem usaha, branding, manajemen, serta cerita yang menjadi identitas produk. Dengan bekal tersebut, UMKM diharapkan mampu bergerak dari pasar lokal menuju pasar nasional.
Kepala KUA Kecamatan Kebomas, Naryanto, menyampaikan terima kasih kepada seluruh mitra dan peserta. Ia mengajak pelaku UMKM untuk tetap semangat, tidak malas belajar, serta menerapkan ilmu yang diperoleh demi meningkatkan kualitas usaha dan kemandirian ekonomi keluarga.
Sementara itu, Ahmad Dahlan Malik dari MENBIS SEUISI mengingatkan pentingnya prinsip khairunnas anfa'uhum linnas; sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Semangat kebermanfaatan tersebut diharapkan tumbuh melalui kolaborasi dan pengembangan UMKM. Founder AMIK Training Center juga mendorong peserta untuk terus belajar, menjaga amanah, membangun usaha dengan sungguh-sungguh, dan berani membawa produk lokal hingga mendunia.
Dari Sekadar Laku hingga Pesanan Ratusan Produk
Suasana haru terasa ketika Wiwin membagikan pengalamannya. Ia mengaku gemetar, bahkan hampir menangis, saat menceritakan perubahan yang dialaminya selama mengikuti pembelajaran dan pendampingan AMIK Training Center.
“Dulu, pokoknya produk laku. Saya belum benar-benar memperhitungkan apakah usaha itu menghasilkan keuntungan,” demikian inti pengalaman yang dibagikannya.
Ia pernah menjual hingga 100 produk, tetapi masih menghadapi persoalan barang yang kembali. Melalui proses belajar bersama, Wiwin mulai memahami pentingnya pengelolaan usaha yang lebih baik. Kini, produk jajanan yang dikembangkannya menerima pesanan sekitar 300–500 buah. Ia juga memperoleh peluang pemasaran yang lebih luas, termasuk melalui jejaring yang mengarah ke Yogyakarta.
Bagi Wiwin, perkembangan tersebut bukan hanya soal jumlah pesanan, melainkan kebanggaan dan motivasi untuk terus bertumbuh. Ia berharap pendampingan UMKM dapat berkelanjutan agar para pelaku usaha bisa terus belajar, berbagi pengalaman, dan berkembang bersama.
Kegiatan dilanjutkan dengan doa yang dipimpin Sumardiono, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Kebomas, agar ikhtiar pemberdayaan ini membawa keberkahan, ilmu yang bermanfaat, serta kemajuan bagi usaha para peserta. Acara ditutup dengan dokumentasi bersama.
Melalui kolaborasi KUA Kebomas, LAZ Al-Azhar, MENBIS SEUISI, dan AMIK Training Center, program KUA PEU diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun UMKM yang tidak hanya mampu meningkatkan penjualan, tetapi juga memiliki sistem usaha yang kuat, pengelolaan profesional, dan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.